Photo by Tim Marshall on Unsplash

Bacaan: Yohanes 10 : 11 – 18

Hari ini kita memasuki Minggu Paska ke-4. Kristus menyatakan diri sebagai gembala yang baik kepada kita. Gembala yang baik pastilah Ia memiliki sikap diri yang utuh sebagai teladan dalam segala hal serta rela menempatkan diri dan tinggal bersama domba-dombanya dalam realita hidup di padang gurun serta memelihara mereka dengan kasih yang sempurna.

Yesus telah memberi pernyataan (ayat 11) “Aku adalah gembala yang baik”; sesudah itu Ia menjelaskan ciri-ciri dari gembala yang baik (ayat 11-15). Pertama. Berkorban bagi domba-domba-Nya. Pemberian nyawa dari Sang Gembala bukan tanda kelemahan atau kekalahan, tetapi hal itu dilakukan untuk menyelamatkan mereka. Apa yang dilakukan Yesus sebagai gembala yang baik, sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh seorang upahan. Seorang upahan tidak disebut gembala dan pemilik atas domba-domba itu. Seorang upahan tidak mau bertarung melawan serigala, apalagi menjadi korban ganti domba-dombanya.

Kedua. Gembala sangat mengenal domba-domba-Nya. Pengenalan yang intim antara gembala dan domba meliputi tindakan sukarela Sang Gembala untuk selalu menjaga dan mengenal domba-domba-Nya. Demikian pula domba- dombaNya mendengar dan mengenal suara gembalanya serta merespons panggilan gembalanya dan mengikuti Sang Gembala kemanapun Ia pergi. Untuk memperjelas hubungan gembala dan domba, maka Yesus menggambarkan hubungan itu seperti relasi erat antara Bapa terhadap diriNya. Ada aspek resiprokal (saling) yang ditekankan disini, seperti (Bapa-Yesus) saling mengenal, demikian pula (Yesus-kita) saling mengenal. (JM)