Image from jesusscribbles.files.wordpress.com

Bacaan: Markus 14 : 6–15

Di setiap sudut pengadilan biasanya ada patung Dewi Themis atau dikenal dewi keadilan. Patung adalah sosok perempuan dengan mata tertutup melihat secara objektif, tangan kiri memegang timbangan untuk menimbang yang baik dan salah, sedangkan yang kanan memegang pedang sebagai simbol kekuatan keadilan. Sayangnya, simbol yang baik itu tidak dimaknai dan dihayati dengan baik. Lihat saja keadilan sekarang mudah sekali dipermainkan dengan kepentingan oknum-oknum. Mata keadilan dicolok dengan uang agar buta melihat mana yang benar, timbangan menjadi berat dengan tumpukan hadiah, pedang keadilan menjadi tumpul karena tidak pernah digunakan.

Kita tahu betul bahwa pengadilan Pilatus terhadap Yesus diwarnai oleh kepentingan. Baik kepentingan politik Pilatus sendiri tentang keamanan wilayahnya dan juga kepentingan imam-imam kepala agar Yesus tidak mencampuri kekuasaan dan wibawa mereka di kalangan orang Yahudi. Keadilan tercabik saat rakyat itu terhasut untuk membebaskan Barabas, penjahat yang terbukti bersalah dibandingkan Yesus. Keadilan yang kalah dengan kepentingan.

Yesus telah menjadi korban (victim) dari ketidakadilan dan juga kurban (sacrifice). Yesus memberikan hidup-Nya – kurban – bagi manusia sejak Ia datang dalam dunia ini dan dijadikan korban oleh manusia yang menolaknya, bahkan digiring sampai ke salib. Kenapa Yesus tidak melawan pengadilan itu? Seorang teolog dari Brasil bernama Leonardo Boff mengatakan Yesus justru memberikan dirinya demi solidaritas dengan semua manusia yang menderita di dalam sejarah, termasuk manusia yang menderita karena ketidakadilan dan sekaligus mengakhirinya semua penderitaan, termasuk ketidakadilan itu. Penderitaan Yesus seharusnya mencelikkan mata kita tentang ketidakadilan yang terjadi baik itu di sekitar kita. Kita mungkin adalah korban, atau bisa juga menjadi pelakunya.

Lantas kenapa ketidakadilan masih terjadi jika Yesus mengakhiri di kayu salib? Jawabannya ada pada kita, gereja-Nya. Kita yang telah tahu kebenaran itu harusnya menyatakannya. Salib itu sebagai pengingat kita bahwa rantai kekerasan dan ketidakadilan harus dihentikan. Maka dengan kuasa Roh Kudus, kita harus membuktikan dampak pemutusan rantai ketidakadilan itu. (DKG)