Photo by Fabian Irsara on unsplash

Bacaan: Yohanes 12 : 20 – 33

Menempatkan dan mengejar kekayaan, jabatan, dan penampilan sebagai sesuatu yang utama dalam hidup adalah nilai-nilai dunia yang tanpa disadari telah merasuk ke dalam kehidupan sebagian anak-anak Tuhan. Hampir setiap saat dunia menawarkan kegembiraan dan kepuasan melalui media cetak dan elektronik. Banyak orang tidak lagi mau hidup dalam penderitaan, tidak mau hidup susah, tidak mau ketinggalan jaman. Mereka mengejar apa yang disebut oleh dunia sebagai “kemuliaan hidup”; bisa memakai barang-barang bermerek terkenal, dipuja banyak orang bagaikan selebriti, bisa masuk dalam kalangan sosialita menjadi impian banyak orang. Bahkan dalam berita di media cetak ataupun elektronik di sana dikatakan beberapa remaja yang masih dibawah umur rela menjual diri demi untuk mendapatkan handphone merk terbaru. Mereka rela mengorbankan dan melakukan apapun juga demi mendapatkan yang mereka sebut sebagai “kemuliaan hidup”. Sungguh ironis. Kenyataan di atas sungguh bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Yesus.

Dalam Yohanes 12: 20-33 -yang merupakan pasal transisi- Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Yesus memberikan pernyataan yang memberitakan penderitaan dan kematian-Nya sebagai saat untuk dimuliakan. Hal ini tentulah mengherankan, mengapa penderitaan dan kematian dihubungkan dengan kemuliaan, sedangkan kata “kemuliaan” seperti yang tersebut di atas, seringkali diukur berdasarkan materi. Pernyataan Yesus tentang kemuliaan seolah menjungkirbalikkan pandangan dunia ini.

Yesus memilih menjadi seperti biji gandum yang mati, bersedia kehilangan nyawa-Nya bukan karena Ia tidak berdaya terhadap keadaan, tetapi merupakan pilihan untuk setia kepada kehendak Bapa. Yesus dapat membuat pilihan yang tepat karena Yesus memiliki visi yang jelas tentang hidup yang mulia yang menghadirkan kehidupan. Kematian-Nya adalah kematian dosa. Jadi dengan penderitaan dan kematian Yesus, maka disanalah nampak
kemuliaan Bapa dan bahwa Yesus juga dimuliakan oleh Bapa dalam penderitaan-Nya.

Kerelaan Yesus menjadi teladan kita untuk mematikan dosa dan keinginan yang tidak seturut dengan kehendak Allah. Dunia akan selalu memikat kita untuk mengikuti standarnya dan menarik kita dalam sistem nilai kefanaan daripada nilai kekekalan; lebih mencari perkenanan manusia daripada perkenanan Allah. Karena itu marilah kita berpegang pada Firman Allah agar kita dimampukan membangun hidup yang dapat mengendalikan keinginan dengan mematikan keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah agar nama Bapa semakin dipermuliakan melalui hidup kita.

1 Yohanes 2: 15-17 berkata: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih Bapa tidak ada dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukan berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Selamat memasuki Minggu Pra Paska yang kelima. Tuhan Yesus memberkati. (KY)