Photo by Marvin Meyer on unsplash

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

(Efesus 2 : 8, 9)

Beberapa waktu lalu beredar di media sosial, ada seekor anjing yang dibuang di gorong-gorong kemudian lubangnya ditutup papan. Anjing itu dibiarkan tidak bisa keluar dan dibiarkan pelan-pelan mati. Hingga ada orang yang membuka papan itu, dan tampaklah seekor anjing kurus, terluka, menjijikkan, menatap keluar. Segera anjing tersebut ditolong dan dirawatnya hingga sembuh. Kini, anjing itu menunjukkan kesetiaannya kepada penolongnya yang telah menyelamatkannya dari kematian.

Kalau anjing saja bisa menunjukkan terima kasihnya karena diselamatkan dari kematian, bukankah kita seharusnya bisa lebih dari itu? Kita seharusnya mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita. Seperti surat Paulus kepada jemaat di Efesus. “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang bekerja di antara orang-orang durhaka.” (Ef 2 : 1-2)

Paulus juga mengakui dirinya dulu juga terhitung di antara orang-orang berdosa yang patut dihukum mati, yaitu ketika mereka hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. “Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain,” katanya (Ef 2 : 3). Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita. Anugerah Allah yang memberi kehidupan kepada kita. Kehidupan baru kita peroleh bukan karena pekerjaan atau usaha kita, tetapi anugerah Allah. Mari, ungkapkan rasa syukur kita atas hidup baru di dalam Yesus Kristus dengan ketaatan melaksanakan firman Tuhan. Mari kita membagi kasih kepada sesama. Tuhan menyertai. Amin. (SS)