Bacaan: MAZMUR 25 : 1-10

Setiap kalimat dalam Mazmur selalu lahir dari pergumulan yang panjang dari seorang manusia. Bahkan, seorang teolog pernah berkata dalam buku PENGHIBURAN YANG MENYENANGKAN JIWA karya Bill Crowder kurang lebih demikian, “Karena 65 kitab dalam Alkitab mengungkapkan isi hati Tuhan kepada umat-Nya, maka Mazmur adalah bagian kitab yang mengungkapkan isi hati manusia kepada Tuhan.” Di dalam Mazmur, kita menemukan orang-orang yang menjerit, memohon, marah, ragu, bersyukur, berteriak, bergembira, dan segala macam emosi yang meluap-luap dinyatakan kepada Allah. Mazmur sangat identik dengan kejujuran. Ya, kejujuran hati manusia, tanpa ditutup-tutupi.

Itu pula yang membuat saya tertegun mendengar pengakuan yang jujur dari seorang bernama Daud. Ia disebut sebagai sahabat Allah, orang yang sangat dekat dengan Tuhan. Ia memerintah atas sekumpulan umat pilihan Allah di tengah bangsa-bangsa yang tak mengenal Dia. Namun dibalik semua itu, Daud juga adalah seorang manusia yang penuh dengan keterbatasan, pernah terjatuh dalam lubang dosa, tak mampu bangkit dengan kekuatan sendiri, dan mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya Penolong dan Pengampun. Daud meminta supaya Allah menunjukkan kebenaran kepadanya. Tak berhenti di situ. Daud juga memohon dengan sangat agar Allah tak lagi mengingat seluruh pelanggaran yang telah dilakukan, namun mengingat pribadinya sebagai seorang manusia rapuh. Doa yang begitu indah ini membawa perubahan dalam hidup Daud. Ia bebas! Ia tak lagi dikungkung oleh perasaan bersalah dan tertekan. Sekalipun ini tak berarti dalam hidup Daud berubah dalam sekejap mata, namun kita dapat melihat bagaimana pengharapan dan kepercayaannya kepada Allah menjadi kekuatan baru.

Pembaharuan hidup tidak dimulai dengan pengakuan bahwa kita merasa cukup baik untuk diterima oleh Allah. Pembaharuan itu justru dimulai dengan pengakuan iman bahwa hidup kita hancur, kita terlalu kotor, kita telah menjadi orang yang jahat dalam banyak hal, kita adalah pribadi yang tak layak berhadapan, bahkan tersungkur di hadapan Allah yang Maha Suci. Hanya ini yang bisa kita lakukan, memohon kemurahan Allah untuk menerima dan mengangkat kita kembali dari kegelapan. Pengakuan seperti inilah yang dinanti-nantikan Tuhan. Bukankah Ia adalah Allah yang baik dan suka mengampuni? (Mazmur 86 : 5) – BWA