Bacaan: I Timotius 4: 1-16

Berbicara mengenai anak muda, sangat tergantung dari sudut pandang siapa. Pada umumnya stereotype anak muda di mata orang tua adalah kaum pemberontak yang maunya serba instan, selalu tergesa-gesa, ceroboh dan asosial dalam sandera internet. Generasi muda menganggap dirinya lebih kekinian, orang tua yang kurang “gaul”, yang suka melarang dan gagap teknologi. Seolah tercipta garis imajiner yang memisahkan para orang tua yang dinilai konservatif dan anak muda yang menganggap dirinya progresif. Sikap konservatif seringkali menjadikan anak muda merasa lingkungannya tak lagi relevan, sementara sikap progresif seringkali menjadikan anak muda dianggap menabrak kemapanan yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi.

Dalam gereja pun, kadang-kadang masalah generation gap ini mengemuka. Diagnosis awalnya apakah terjadi kebuntuan komunikasi? Apakah anak-anak muda menjadi pasif karena merasa tidak mendapat dukungan? Kemudian, apakah secara statistik terlihat adanya penurunan rasio jumlah pemuda/ remaja dengan anak Sekolah Minggu yang menimbulkan pertanyaan ke mana anak-anak Sekolah Minggu yang lucu itu sekarang? Bila ada satu atau lebih jawaban “ya” muncul, seperinya kita perlu memperbaharui relasi antar generasi di dalam gereja.

Mari belajar dari sikap Rasul Paulus kepada murid mudanya, Timotius yang sejak masih muda dibawanya dalam pelayanan di berbagai tempat. Dari situ Paulus mengenal karakter Timotius dengan sangat baik, dan percaya akan iman dan pelayanannya, sehingga berani mengutus Timotius untuk melayani jemaat Efesus. Paulus menjadi mentor yang baik bagi Timotius, mempercayainya dalam tugas pelayanan, dan terus memotivasi, memperkuat ajaran serta memperingatkan untuk fokus pada apa yang penting dalam pelayanannya.

Hari ini kita diingatkan bahwa tanggung jawab gereja untuk merangkul dan mendukung kaum muda menjadi semakin penting. Allah juga memanggil kaum muda menjadi bagian dari karya keselamatan-Nya. Mereka perlu diberi peran yang lebih besar serta dibimbing secara serius sebagai calon pemimpin gereja masa depan. (ES)