Media sosial bisa dibilang sebagai terobosan besar dalam sejarah manusia. Dengan aplikasi tersebut, manusia dapat terkoneksi dengan siapa saja yang ada di segala penjuru dunia. Kita dapat membagikan kepada seluruh dunia tentang apa saja tentang kita. Dari mulai ungkapan hati , apa yang sedang kita lakukan, berita apa yang kita dapat dan hendak dibagikan, sampai sedang berada di mana. Informasi apapun dengan mudah didapat, mulai dari trend gaya hidup sampai informasi kejadian terkini mampir ke akun media sosial kita. Media sosial yang awalnya diciptakan untuk kebaikan berubah menjadi keburukan. Orang dengan mudah dan tanpa berpikir panjang mengungkapkan kata-kata kebencian dan kemarahan, berita-berita yang belum tentu benar dengan mudah dibagikan kemana-mana, komentar-komentar penuh dengan caci maki. Dengan sosial media, orang merasa lebih berani mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan. Jika dulu terdengar peribahasa “ Mulutmu adalah harimau-mu ” mungkin sekarang berubah menjadi “ Statusmu adalah harimau-mu ”

Yunus juga ingin mengungkapkan apa yang ia ingin ungkapkan, yaitu kebencian terhadap bangsa Niniwe, bangsa yang bukan bangsanya. Bangsa itu harusnya tidak diampuni Allah karena dosa mereka, tetapi dihukum. Setelah peristiwa perut ikan (Yun 1-2), Ia memang menyerukan ajakan pertobatan bagi Niniwe (Yun 3:1-10). Tetapi hal itu mengesalkan hatinya setelah diketahui bahwa Niniwe bertobat (Yun 4:1). Ia benci dengan Niniwe dan ingin mereka dihukum oleh Allah. Kebencian Yunus bukan tanpa sebab. Niniwe adalah Ibu kota kerajaan bangsa Asyiria, musuh Israel. Sudah banyak bangsa Israel yang tewas di tangan Asyiria. Yunus adalah nabi yang harusnya menuntun orang untuk bertobat kepada Allah, tetapi apa yang ia ungkapkan sebaliknya. Ia kalah dengan kebenciannya.

Panggilan kita tak jauh berbeda dengan panggilan Yunus yaitu menyerukan berita pertobatan yaitu berita yang mengajak orang untuk kembali pada apa yang benar. Berita itu adalah Firman Tuhan yang seperti pedang bermata dua, bukan hanya untuk orang lain yang tetapi juga untuk kita. Bukan hanya niniwe yang harus bertobat tetapi Yunus juga. Bukan hanya orang lain yang harus bertobat, tetapi juga kita. Mulai dari diri sendiri dan kemudian berdampak kepada yang lain. Bereskan ketidakbenaran dalam kehidupan kita dan berdampak menyuarakan kebenaran di tengah situasi yang tidak benar, termasuk dalam media sosial. Pikir ulang ketika mau mengetik sesuatu di kolom status atau komentar kita, ‘apakah yang saya suarakan itu mengandung kebenaran atau tidak?’ ‘apakah komentar saya ini membangun atau tidak?’ Biarlah aspek seluruh kehidupan kita menjadi ‘berita’ kebenaran di dalam Tuhan. (DKG)