Bacaan: LUKAS 1:26-38

Mustahil adalah batas pikiran manusia ketika logika tidak dapat menjangkaunya. Mustahil juga menjadi kata yang amat menggelisahkan saat waktu mendesak dan mengancam kelangsungan hidup kita. Mustahil perwujudan dari keraguan dan kebimbangan yang menendang kita keluar dari keyakinan kita. Apa yang harus dilakukan? Tetap percaya walau mustahil? Terdengar naif bukan? Ya memang terdengar naif, tetapi itu adalah sebuah langkah iman. Natal dimulai dari kemustahilan.

Siapa yang bisa menyangka bahwa Allah turun menjadi sama dengan kita, manusia. Siapa yang menyangka bahwa Allah memilih perempuan muda, Maria. Ya, perempuan muda, sebab lazimnya pada masa itu, perempuan muda berkisar 18-20 tahun bertunangan. Maria, perempuan muda yang sama sekali belum punya pengalaman mengurus anak dipilih Allah menjadi bunda-Nya. Catat, tidak ada pengalaman! Bagaimana kalau keguguran? Bagaimana kalau Maria tidak becus merawat Kristus, Juruselamat dunia? Sungguh beresiko sekali. Belum lagi Yusuf, tunangannya. Apakah mau menerima Maria? Mustahil. Bagaimana kalau Yusuf bukan ayah yang baik bagi Yesus? Kenapa Allah tidak memilih orang-orang berpengalaman? Semua itu jika dipikirkan dengan logika kita rasanya mustahil. Tetapi itulah yang terjadi. Cara pikir dan tindakan Allah kadang tidak terselami oleh pikiran kita. Seperti kata malaikat Gabriel “… sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”

Yang bisa kita lakukan hanyalah percaya dan taat pada-Nya. Seperti Maria di tengah kemustahilan yang dihadapi, dengan kerendahan hati ia berkata “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Demikian dengan Yusuf, ia memilih taat untuk tetap mempertahankan Maria, menikahinya, dan hidup merawat Kristus kecil hingga dewasa kelak. Percaya di tengah kemustahilan hidup menjadi sebuah langkah iman kita untuk tetap mengarahkan hati pada Allah. Semua itu dimulai dari kerendahan hati untuk tetap percaya pada jalan dan kehendak-Nya dalam kehidupan kita. (DKG)