Bacaan: MARKUS 13: 24 – 37

Bagi para penggemar sepakbola pasti masih mengingat kejadian di Piala Eropa tahun 2004. Ya! Pada gelaran kejuaraan sepakbola paling bergengsi tersebut yang menjadi juara adalah Yunani, sebuah negara yang sama sekali belum pernah terdengar prestasinya di kancah persepakbolaan. Yunani berhasil menerapkan strategi super defensif (pertahanan super) yang membuat lawan sekelas Italia, Spanyol, Portugal, dan Perancis tidak berkutik untuk mencetak gol, sambil sekali waktu melancarkan serangan balasan yang terbukti efektif. Pada akhirnya Yunani berhasil menjadi juara bak cerita dongeng. Apa yang menjadi kunci keberhasilan Yunani? Ya, kedisiplinan dalam menerapkan strategi bertahan tadilah yang membuat mereka berhasil. Setiap individu dalam tim ditugaskan untuk selalu berjaga-jaga, memastikan lawan dan bola tidak melewati mereka, sehingga tidak kecolongan kemasukan gol.

Berjaga-jaga adalah suatu kondisi yang memerlukan kedisiplinan dalam melakukannya, karena kita semua tahu itu bukanlah hal yang mudah. Di jaman yang semakin digital ini kita diperhadapkan masalah pengalihan perhatian (distraksi). Orang dapat dengan mudah beralih dari satu hal ke hal yang lain dengan sangat cepat. Kebiasaan multitasking, mengerjakan beberapa hal secara bersama-sama juga kerap kali membuat kita tidak bisa berkonsentrasi penuh. Ketika sedang mengerjakan laporan, tiba-tiba ada
bunyi email masuk di HP kita, atau ada bunyi notifikasi whatsapp, yang seringkali lalu memecah konsentrasi. Tatkala kita berbincang bersama keluarga, kita juga sering “menyambi” dengan gadget kita, entah mengecek media sosial, cari barang di toko online atau sambil membaca berita online. Banyak hal yang membuat kita tidak bisa berkonsentrasi.

Firman Tuhan mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga (Markus 13 : 33). Berjaga untuk hal apa? Berjaga untuk ketika tiba waktunya Hari Tuhan datang jangan sampai kita kedapatan tidak siap. Namun ternyata, berjaga-jaga tidaklah mudah, seperti halnya dunia digital yang sering memecah konsentrasi kita. Dunia ini dengan segala yang ditawarkannya juga sering mengganggu kewaspadaan kita. Tawaran materi, tawaran jabatan, atau kekuasaan, tawaran kesenangan diri membuat kita lalai dan menjauh dari Tuhan, jauh dari tugas berjaga-jaga kita, sehingga tiba-tiba lawan kita “si iblis” bisa mencetak “gol” nya dalam kehidupan kita, kita gagal menjaga hidup kerohanian kita, menjaga relasi pribadi kita dengan Tuhan dan berdampak dalam kehidupan kita.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Kita harus segera bangkit kembali dan segera memperbaiki diri kita. Berjaga-jaga lagi dengan segala kedisiplinan dan kewaspadaan agar tidak kecolongan. Motivasi kita yang menggerakkan adalah pengharapan. Ada harapan bahwa setelah kita melalui semua ini kita akan mendapatkan “mahkota” kita dari Tuhan. Inilah yang harus terus kita pegang, agar kita selalu kuat, selalu ingat, selalu waspada, dan berjaga-jaga. (YEP)