Bacaan: MATIUS 25:31-46

Dalam hidup yang serba modern dan bergerak dengan sangat cepat ini, tantangan terbesar yang sedang dihadapi oleh kemanusiaan adalah sikap egosentris. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), egosentrisme adalah sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari segala hal. Sikap egosentris ini ditandai dengan keengganan orang untuk melihat dan mendengarkan sudut pandang orang lain karena menurutnya hanya cara berpikirnyalah yang paling benar dan paling cocok untuk semua hal. Akibatnya, orang hanya sibuk dengan dirinya, kebutuhannya, hidupnya, ambisinya, bahkan mimpinya sendiri, tanpa mau terlibat untuk menolong sesamanya yang kesulitan.

Egosentrisme yang tumbuh subur dalam hidup bersama dapat mengikis semangat kemanusiaan yang sejati yaitu : kepedulian. Ketika semua hal dilakukan hanya demi ambisi dan kepentingan diri sendiri, maka suasana hidup yang tercipta adalah rasa ketidakpedulian. Kasih dan perhatian pada nasib orang lain menjadi lenyap. Berganti dengan sikap acuh tak acuh pada pemikiran, perasaan, bahkan masa depan orang lain.

Menghadapi segala kecenderungan hidup egosentris tersebut, Injil Yesus Kristus sebagai berita bahagia, menawarkan kepada kita tentang arti hidup saling merawat. Tuhan Yesus sebagaimana disaksikan dalam Injil Matius 25: 31-46 dengan jelas mengajarkan para murid untuk mengisi hidupnya dengan merawat sesama manusia. Merawat kemanusiaan tersebut dicontohkan oleh Tuhan Yesus dengan jalan merawat orang asing, memberi makan dan minum pada orang yang haus dan lapar, serta memberi tumpangan pada orang yang tidak lagi mempunyai rumah. Tuhan Yesus menyerukan untuk mengasihi sesama manusia dan bahkan orang
asing bagi kita dengan sambutan yang terbuka dan hangat.

Perintah untuk peduli dan mengasihi sesama ini bukan sekadar berbicara tentang manusia yang mengalami kemiskinan secara harafiah, tetapi juga berbicara tentang mereka yang batinnya miskin. Apa artinya hal ini? Kasih dan kepedulian yang Tuhan Yesus ajarkan adalah tindakan yang merengkuh sekaligus menebus manusia yang haus dan lapar akan kasih sayang, mereka yang dibuang dan tidak lagi dianggap keberadaannya, mereka yang tidak lagi mempunyai suasana “rumah” yang hangat yang menyambut mereka apa adanya. Panggilan untuk kita sebagai umat Tuhan merawat sesama kita manusia yang miskin harta maupun batin inilah yang diserukan oleh Tuhan Yesus. Panggilan ini perlu terus digaungkan agar setiap manusia berani keluar dari “perut” dan “rumahnya” sendiri dan dengan sukacita menyambut serta merawat mereka yang papa.

Di minggu Kristus Raja ini,  kita diajak untuk menghayati kembali peran Kristus sebagai Raja atas manusia. Kristus dalam kedatanganNya kembali akan menghakimi dan mengadili setiap kehidupan manusia. Ia datang untuk memisahkan domba dengan kambing. Domba adalah gambaran manusia yang melakukan kehendakNya, yaitu merawat sesamanya manusia dengan kasih dan kepedulian. Sementara kambing adalah gambaran dari manusia yang tidak melakukan kehendak-Nya, yang egosentris, dan yang pada akhirnya enggan untuk merawat hidup sesamanya manusia. Maka pertanyaan reflektif kepada kita semua adalah: Golongan yang manakah kita hari ini? Kelompok domba atau kelompok kambingkah kita? Siapakah yang hari ini akan kita rawat dengan sepenuh hati? Adakah itu orang asing atau justru malah orang terdekat kita? (KHS)