Suatu hari anak kami yang berusia 5 tahun bertanya kepada saya “Kenapa kalau Papa boleh main handphone sambil tiduran, kalau saya ga’ boleh, Ma?” ketika memperhatikan Papanya melihat handphone sambil tiduran. Lalu saya menjawab “Iya, seharusnya memang tidak boleh, sana kamu bilang ke Papa kalau tidak boleh lihat handphone sambil tiduran, nanti matanya sakit”.

Kita sebagai orangtua masih seringkali jatuh di area ini. Kita menjadi orangtua yang JARKONI (iso ujar ra iso nglakoni) – bisa atau bahkan fasih memberi pengajaran (atau nasihat) namun kita sendiri tidak melakukan apa yang kita ajarkan. Kita menasehati anak untuk rajin berdoa dan membaca Alkitab, namun kita sendiri jarang melakukannya. Kita menasehati anak untuk murah hati, namun ketika melihat teman atau saudara yang memerlukan, kita hanya berdiam diri. Kita menasehati anak untuk menjadi pribadi yang jujur, namun kita mudah sekali berbohong.

Dalam Matius 23:1-12, Yesus mengecam orang orang farisi karena tidak memberi teladan yang sepatutnya. Teguran Tuhan : “turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (ay.3). Bukankah kita juga masih jatuh dalam dosa seperti mereka? Kita belum menjadi Pelaku Firman. Kita hanya berpengetahuan tentang Firman atau bahkan mungkin Ahli Firman, namun tidak melakukannya.

Tuhan Yesus sendiri sudah dan selalu menjadi teladan bagi kita. Dia sudah mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya (Lukas 23:24). Dia sudah menunjukkan kasih kepada wanita Kanaan (bukan umat Israel – Matius 15:21-28) hingga wanita itu bertobat . Dia sudah menahan cobaan dari Iblis. Dia bahkan mati di kayu Salib untuk menebus dosa kita. Pertanyaannya adalah apakah kita mau meneladani Dia? Apakah menjadi Pelaku Firman sudah masuk dalam to do list kita? Apakah menyenangkan hati-Nya sudah menjadi prioritas hidup kita? Kita manusia lemah, mari terus berharap, berdoa memohon kepada Tuhan supaya kita menjadi manusia-manusia yang berintegritas. Menjadi anak-anak Tuhan yang melakukan Firman-Nya. Amin. (NN)

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Matius 11 : 29