Bacaan: FILIPI 2:1-13

Ilustrasi tentang gelas yang kosong, sering dipakai dalam pemberian materi pembelajaran di sekolah atau pelatihan. Seseorang yang datang untuk belajar harus mengosongkan pikirannya seperti gelas yang kosong, sehingga dapat diisi sebanyak-banyaknya dengan pengetahuan yang baru. Jika seseorang yang ingin belajar tetapi merasa sudah memiliki pengetahuan, maka dia ibarat gelas yang sudah berisi air sehingga ketika diisi lagi maka airnya akan tumpah dan tidak berguna.

Di dalam Filipi 2:6-7 dikatakan Tuhan Yesus tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Tuhan Yesus rela meninggalkan segala kemuliaan-Nya di surga untuk menjadi manusia bahkan sampai rela mati di kayu salib. Sebagai manusia Tuhan Yesus menerima segala cercaan, hinaan, penderitaan, kebencian, perlakuan buruk bahkan sampai mati disalib seperti seorang penjahat demi melepaskan kita dari penghukuman kekal.

Bagi kita umat pilihan Allah, belajar dari pribadi Kristus, maka mengosongkan diri memiliki makna:
♦ Merendahkan diri, bukan rendah diri.
Sikap dasar manusia adalah suka dipuji karena itu merendahkan diri bukan sesuatu yang mudah. Butuh suatu pemahaman yang mendalam dan pengorbanan untuk berjuang menghilangkan rasa keakuan kita. Banyak orang yang terjebak kepada kesombongan, merasa diri paling hebat sehingga melupakan tugas utamanya untuk mengenalkan kasih Kristus kepada orang-orang yang belum percaya. Tidak ada seorangpun manusia yang nomor satu dan paling hebat di dunia ini. Sehebat-hebatnya manusia, dia adalah ciptaan yang memiliki keterbatasan. Karena itu kita selalu dan terus membutuhkan pertolongan Tuhan di dalam menjalani hidup sehari-hari. Seperti Tuhan Yesus yang telah memberi teladan kepada kita dengan merendahkan diri-Nya demi menebus dosa manusia, selayaknyalah kita juga belajar merendahkan diri dan hidup bagi orang lain.

♦ Tidak egois
Bagaimana seandainya Tuhan Yesus memilih tetap tinggal di surga dalam kemuliaan-Nya? Bersyukur kita memiliki Tuhan yang mengasihi manusia berdosa. Untuk menjadi orang yang tidak egois, tidak mementingkan dirinya sendiri dibutuhkan satu kata yaitu Kasih. Hanya orang yang memiliki kasih mampu untuk hidup bagi orang lain. Saat ini manusia semakin egois dan individualis, hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Karena itu sebagai orang beriman mari kita belajar mendahulukan kepentingan orang lain dan memberikan perhatian yang tulus kepada sesama.

Tuhan Yesus telah memberikan teladan bagi, karena itu marilah kita juga belajar mengosongkan diri dan siap untuk terus dibentuk melalui pembelajaran yang Tuhan Yesus berikan di dalam hidup kita sehari-hari di dalam keluarga, gereja, dan masyarakat agar kita dapat saling melayani dan mengasihi agar kasih Kristus menjadi nyata di dalam hidup kita. (LKSI)