Pada suatu sore, hujan turun dengan sangat lebat. Saya berada di dalam mobil yang sedang melaju kencang membelah hujan yang begitu derasnya itu. Segala sesuatu di luar mobil tampak hanya seperti bayangan yang bergerak-gerak tanpa makna. Hingga mata saya terpaku pada sebuah pemandangan yang hingga kini tidak saya lupakan.

Ada sesosok Kakek yang duduk di tepi trotoar, sendirian, tanpa payung ataupun sesuatu yang melindungi tubuhnya dari terpaan angin dan hujan. Basah kuyup dan tentunya kedinginan. Hati saya tergerak oleh pemandangan itu, namun cukup hanya tergerak saja. Saya tidak melakukan apa-apa. Dan begitu sesosok Kakek yang kedinginan itu hilang dari pandangan, barulah mata saya basah oleh air mata. Bukan, bukan air mata karena kasihan, namun air mata penyesalan, air mata yang menangisi diri saya sendiri. Seorang manusia yang bisa dengan egoisnya menikmati kenyamanan.

Pertanyaan saya sendiri kemudian adalah “Mengapa?”, “Mengapa saya tidak melakukan sesuatu untuk menolong Bapak itu?” Jawabannya adalah karena saya takut dan kuatir. Takut kalau nanti Bapak itu malah akan lebih merepotkan saya. Takut bagaimana nanti kalau janjian dengan klien jadi terlambat gara-gara menolong Bapak itu? Takut kalau tubuh saya juga ikut basah kuyup. Dan segala macam kekuatiran yang pada akhirnya menghambat saya untuk menjadi berkat.

Saya terlalu banyak berpikir. Sebenarnya saya bisa menepi dan memberikan Kakek itu payung, cukup kan? Paling tidak sang Kakek tidak kehujanan lagi. Atau saya mengajak Kakek itu berteduh di warung terdekat dan memesankan teh panas. Tidak perlu sampai saya ajak pulang dan seterusnya. Bukankah kita manusia lemah yang penuh dengan ketakutan dan kekuatiran? Kita lupa bahwa Allah kita adalah Allah yang sanggup mengubah air menjadi anggur. Allah yang sanggup membangkitkan orang mati. Allah yang memberi makan 5000 orang hanya dari 5 roti jelai dan 2 ekor ikan. Allah yang menjadi manusia meninggalkan semua kenyamanan-Nya demi menyelamatkan kita manusia berdosa.

Mari belajar dari seorang anak kecil (Yohanes 6:9), yang memberikan semua bekal yang dia punya. Tiada kekuatiran atau ketakutan “Nanti saya makan apa?”. Hanya ada iman seorang anak dan hati yang mau menjadi berkat. (KNN)