Bacaan: KELUARAN 16:1-36

Dalam sebuah obrolan santai dengan beberapa teman, ada seseorang diantara mereka yang melontarkan pertanyaan, “Apa perasaan yang paling sulit menurut kalian untuk dikendalikan?” Jawabannya beragam, tetapi ada satu jawaban yang saya rasa menarik, yaitu rasa cukup. Saya rasa apa yang ia katakan itu benar, apalagi di dunia sekarang yang akan dengan mudah membuat kita menjadi masyarakat konsumtif. Ada begitu banyak kebutuhan yang tiba-tiba dianggap sangat penting untuk dimiliki, tidak bisa tidak, dan banyak diantaranya bukan karena fungsi atau kegunaannya melainkan karena gengsi.

Betapa seringnya kita terus merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita terus ingin lebih dan lebih lagi, sering iri melihat apa yang dimiliki oleh orang lain, bahkan tidak sedikit yang malah menuduh Tuhan pilih kasih atau tidak adil ketika kita tidak memiliki apa yang mereka punya. Mudah bagi kita untuk menginginkan lebih banyak tetapi sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Rasa tidak pernah puas menjadi kebiasaan banyak orang, sudah dianggap wajar dan kalau demikian bagaimana kita akan pernah bersyukur atas segala yang telah kita miliki hari ini.

Sebuah kisah mengenai kecukupan dan keserakahan diperlihatkan oleh bangsa Israel pada masa pengembaraan mereka dibawah pimpinan Musa menuju tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Dalam Keluaran 16:1-36 kita bisa melihat sebuah contoh mengenai sifat mereka ini. Pada bagian ini diceritakan ketika bangsa Israel berangkat dari Elim dan tiba di padang gurun Sin, setelah satu setengah bulan berada dalam perjalanan. Karena kelaparan dan mungkin bekal mereka habis, mulailah mereka bersungut-sungut dan berkata “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” (ayat 3). Tuhan mengasihi mereka lalu menjawab permintaan mereka dengan mengirimkan hujan roti dari langit. “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.” (ayat 4).

Perhatikan bahwa dalam ayat ini meski Tuhan mengabulkan permintaan mereka, namun ada sebuah pesan penting dari Tuhan agar mereka memungut secukupnya saja. Tapi mereka merasa belum juga cukup. Tuhan pun kembali menurunkan burung puyuh sampai menutupi perkemahan mereka. (ayat 13). Dan kembali Tuhan memberi pesan, “Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.” (ayat 16). Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa meski Tuhan bisa memberkati kita secara berkelimpahan, tetapi kita tidak boleh terjebak kepada nafsu keserakahan. Hidup sederhana atau secukupnya merupakan gaya hidup yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki oleh anak-anakNya. Jadi, sudahkah kita hidup ugahari? Hidup dengan kesederhanaan atau secukupnya atau masihkah kita terjebak dengan perilaku yang konsumtif? (BC)