Bacaan: I Petrus 3:13-22

Perjuangan dan komitmen bangsa Indonesia untuk mengutamakan persatuan dan kesatuan sudah berlangsung puluhan tahun yang lampau bahkan sebelum Indonesia merdeka. Hal itu menjadi salah satu faktor utama yang menghantarkan bangsa Indonesia kepada pintu gerbang kemerdekaan. Di dalam semangat persatuan tentunya harus ada semangat untuk menghargai perbedaan dan meniadakan diskriminasi demi keutuhan negeri. Namun sebagian orang terjebak dengan kebenaran menurut versi mereka sendiri sehingga mereka memilih untuk mengorbankan persatuan demi ideologi mereka. Menghargai perbedaan bukan berarti mengorbankan kebenaran. Menjunjung tinggi kebenaran bukan berarti anti toleransi terhadap yang berbeda.

Dalam bacaan Alkitab kita (I Petrus 3:13-17), Rasul Petrus mengajarkan untuk terus berbuat baik dan tidak gentar. Konteks pada masa itu adalah dimana kekristenan masih menjadi minoritas dan banyak yang menganggap bahwa kekristenan adalah ajaran yang baru, bahkan bidat. Akibatnya sering sekali orang Kristen dikejar-kejar, dianiaya, bahkan dihukum. Dari sinilah Rasul Petrus memperingatkan jemaat agar berbahagia dan tidak gentar meskipun di dalam penderitaan karena kebenaran. Setidaknya berbuat kebaikan dapat membuat orang yang berbuat jahat merasa malu.

Menebar benih kebaikan adalah salah satu cara paling efektif di dalam menjaga persatuan, sedangkan hidup yang pasif tidak akan menjadi berkat bagi orang lain dan tidak ada memberi kontribusi di dalam persatuan bangsa. Harus ada tindakan aktif dan nyata dari masing-masing kita agar persatuan tetap terjaga. Rasa toleransi dan menghargai perbedaan tanpa mengorbankan iman dan kebenaran harus diperjuangkan di dalam konteks bangsa yang pluralis ini. Biarlah peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini dapat membangkitkan semangat kita untuk terus berbuat baik, tidak gentar dalam menjunjung tinggi kebenaran, dan selalu aktif di dalam menjaga persatuan Indonesia. (TW)