Bacaan: I PETRUS 2:1-10

Batu penjuru adalah sebuah batu yang mendapat peran penting dalam pendirian sebuah bangunan. Ia diletakkan pada sudut utama dan menghubungkan bagian ujung tembok dengan tembok lainnya sehingga keduanya menyatu. Sedemikian pentingnya sehingga tanpa batu penjuru, mustahil sebuah bangunan akan berdiri kokoh. Di dalam Alkitab, batu penjuru juga merujuk pada batu raksasa yang terdapat dalam bait Suci (Yesaya 28:16) yang melambangkan kehadiran Tuhan yang tetap di tengah-tengah umat-Nya. Makna-makna inilah yang ingin dijelaskan oleh rasul Petrus kepada penerima surat, yaitu orang-orang pendatang yang tersebar di propinsi Asia Kecil kekaisaran Romawi. Sangat memungkinkan di antara mereka adalah orang-orang yang merespons berita Injil dalam khotbah pertama Petrus (Kisah Para Rasul 2:14-40).

Dalam perikop ini, rasul Petrus mengingatkan kepada umat bahwa Yesus Kristus adalah batu penjuru yang berharga. Orang-orang dunia memandang Kristus dan para pengikut-Nya dengan sebelah mata, bahkan tak jarang dengan pandangan yang merendahkan. Nasihat Petrus menyejukkan iman mereka – dan iman kita saat ini – bahwa siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan. Kehidupan umat Allah tak berhenti sampai disitu. Rasul Petrus menjelaskan tentang siapa kita dan tujuan Allah menyelamatkan umat-Nya.

Siapakah kita? Kita termasuk bagian dari bangsa yang dipilih, dikuduskan, dan dimiliki oleh Allah. Maksud dari semuanya ini supaya kita memberitakan perbuatan yang besar dan ajaib dari Allah. Perbuatan besar dan ajaib yang seperti apa? Bukankah kemerdekaan dari dosa dan pembebasan Allah yang kita alami juga merupakan satu – bahkan yang menjadi dasar – dari sekian banyak perbuatan-perbuatan-Nya? Stefanus telah menjadi saksi yang penuh hikmat menceritakan tentang siapa Kristus. Ia benar-benar menerapkan perkataan Yesus di Matius 10:32 “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” Demikian pula dengan jemaat mula-mula, Kisah Para Rasul 4:29 mencatat “… Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba- Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.” Luar biasa bukan? Di tengah tekanan, mereka bahkan tak memedulikan keselamatan diri sendiri. Kristus adalah yang terutama dan terpenting dalam hidup umat Allah sehingga tidak ada kata “tidak” untuk memberitakan perbuatan Allah yang besar itu. Jadi, bagaimana dengan kita? (BWA)

Banyak orang berpikir saya gila sehingga mereka berkata, ”Kamu mengikut Yesus terlalu serius.” Entahlah. Tapi setahu saya, Dia benar-benar serius saat Ia mau mati bagi saya di atas kayu salib.

– Anonim –

Leave a Reply