“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba- Ku dan domba-domba- Ku mengenal Aku.” -Yohanes 10:14-

Yesuslah gembala yang baik. Dia mengenal domba-domba- Nya dan domba-domba-Nya mengenal Dia. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yoh 10:9,11)

Lalu, siapakah domba-domba itu? Domba-domba itu ialah orang-orang yang telah menyerahkan dan mempercayakan hidupnya kepada Yesus Kristus. Orang-orang yang dosanya telah ditebus oleh darah Kristus di atas kayu salib. Domba-domba Kristus akan mengenal Sang Gembala dan mendengarkan dan melakukan kehendak-Nya.

Domba yang menjadi milik Kristus tidak akan kekurangan karena Sang Gembala selalu menjaga dan memeliharanya. Daud dalam Mazmur 23 menyebutkan, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Daud sangat mengenal gembalanya. Walaupun hidupnya penuh penderitaan karena dikejar-kejar Saul dan musuh-musuhnya, dia harus berlari dan bersembunyi, saat menjadi raja harus menghadapi konflik rumah tangga yang hebat, tetapi Daud mengenal Tuhan, Sang Gembala yang memberikan jalan keluar baginya. Dia menyerahkan hidupnya pada Allah. Daud memiliki hubungan yang dekat dengan Allah karena dia sering berdoa, membaca dan merenungkan firman-Nya, dan menyerahkan setiap persoalan kepada Tuhan.

Kalau kita adalah domba-domba Allah, apakah kita sudah mengenal-Nya? Setia mendengar firman-Nya? Terus berdoa kepada-Nya? Atau, kita malah menutup telinga terhadap panggilan Allah dan memilih panggilan akan kenikmatan duniawi. Sebagai pengikut Kristus, kita harus berani menyangkal diri dan memikul salib. Kita harus siap menanggung penderitaan karena iman kita kepada-Nya. Bukankah Yesus telah memberikan teladan? “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Petrus 2:23) SS

Leave a Reply