Bacaan: Matius 21:1-11; 27:11-31

Minggu ini kita memasuki minggu Pra Paska VI yang biasa kita kenal sebagai minggu Palmarum dan yang juga disebut sebagai minggu sengsara. Ada dua bacaan Injil Matius dalam liturgi Pra Paska VI yaitu Matius 21:1-11 dan Matius 27:11-54. Dua teks itu berbicara hal yang ironis yaitu Yesus yang masuk ke kota Yerusalem dengan sorak sorai untuk bersiap diri menjalani sengsara menuju salib. Yesus tahu bahwa di ujung Yerusalem adalah penderitaan, tetapi Ia tetap masuk ke sana. Karena itulah minggu Pra Paska ke VI bermakna ganda yaitu tentang penyambutan Yesus sebagai Raja dan masuknya Yesus dalam jalan sengsara.

Satu hal yang dapat kita teladani dari kedua peristiwa Kristus ini yaitu ketaatan. Yesus sadar betul bahwa inilah panggilan-Nya di dunia yaitu untuk memberikan tubuh dan darah-Nya sebagai tebusan agar dunia diselamatkan. Yesus masuk ke Yerusalem bukan dengan langkah gontai tetapi dengan langkah tegap. Ia siap menghadapi kekerasan yang akan ia jalani bukan dengan kekerasan tetapi dengan sikap lemah lembut. Hal tersebut terlihat ketika Yesus memerintahkan para murid untuk mengambil seekor keledai betina yang tertambat untuk Ia tunggangi masuk ke Yerusalem (Matius 21:2). Keledai itu adalah simbol kelemahlembutan yang ditunjukkan Yesus ketika masuk ke dalam Yerusalem. Yesus masuk bukan sebagai raja perang yang datang dengan kekerasan, melainkan dengan sikap lemah lembut (Matius 21:5).

Sikap lemah lembut bukan berarti lemah, justru di balik lemah lembut ada kekuatan. Yesus berani masuk ke Yerusalem, tempat dimana Ia akan mengalami kekerasan. Ia akan ditangkap dan disalibkan (Matius 27:31). Yesus menghadapi kekerasan dengan sikap yang lemah lembut. Pasti menyakitkan, tetapi semua itu dijalani Yesus dengan taat meski harus menderita. Semua itu semata–mata karena kasih-Nya kepada dunia ini. Dunia ini rusak dan hancur karena kekerasan dosa. Yesus memeranginya bukan dengan pedang dan tombak, melainkan dengan memberikan diri-Nya untuk direngkuh oleh kekerasan dosa itu dan mengalahkannya dengan cinta kasih. Martin Luther King Jr. pernah berujar bahwa kebencian tidak bisa dikalahkan dengan kebencian, hanyalah kasih yang bisa. (DKG)

Leave a Reply