Bacaan: Matius 5 : 1 – 12
Bagi orang yang mencari dan haus pada kehendak Allah dalam hidupnya, ia tidak akan pernah merasa cukup dan puas dalam menggeluti Firman Allah. Setiap perjumpaannya dengan semua hal dalam hidupnya akan selalu membawanya dalam refleksi batin yang dalam tentang sebuah pertanyaan adakah aku sudah hidup benar di hadapan Allah?

Hidup benar di hadapan Allah adalah sebuah keputusan yang diambil oleh manusia untuk hidup sesuai dengan kehendak dan kemauan Allah sendiri. Sehingga Allah sendiri pula yang dapat melegitimasi kebenaran dalam hidupnya, bukan manusia ataupun kondisi di sekitarnya. Hidup benar di hadapan Allah adalah hidup yang diperjuangkan dan diusahakan oleh mausia yang menaruh percaya kepada Allah, di tengah semua tantangan dunia yang menawarkan kesombongan diri sendiri. Hidup benar di hadapan Allah adalah hidup yang hanya mau mengakui bahwa sumber kekuatan dan sumber kehendak hidup manusia berasal dari pengenalannya pada Allah yang penuh kasih sayang. Inilah yang dengan lembut dan sederhana namun mempunyai makna yang dalam, yang Yesus ajarkan dalam Matius 5:1-12  kepada orang banyak pada waktu itu. Dalam Teks Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari dikatakan bahwa orang yang berbahagia karena ia hidup benar di hadapan Allah adalah orang yang merasa tidak berdaya dan hanya bergantung pada Tuhan saja (Matius 5 : 3, BIS). Seluruh kalimat tentang kebahagiaan karena hidup benar di hadapan Allah, digantungkan dalam penghayatan bahwa betapa manusia itu seharusnya hidup hanya bergantung pada Allah karena ia sendiri tidak berdaya.
Oleh karena konsekuensi dalam hidup benar di hadapan Allah adalah berbicara tentang sebuah sikap yang rendah hati di hadapan Allah dan sesama. Hidup yang benar di hadapan Allah adalah hidup yang diawali dengan sikap kerendahan hati. Sikap ini menghantar kita untuk bergerak menjauhi sikap sombong, egois dan merasa diri paling benar serta paling bijaksana. Sikap rendah hati ini akan nampak dalam sikap kita dalam menghargai Allah sebagai satu-satunya pribadi yang patut disembah, bukan diri kita. Sikap ini akan nampak dalam cara kita memperlakukan sesama kita sebagai orang yang tidak berada di bawah kita, tetapi setara dan sama posisinya di hadapan Allah. Maka ketika kita berbicara tentang hidup yang benar di hadapan Allah, kita sedang mempraktekkan hidup yang dipenuhi dengan rasa toleransi, saling menghargai perbedaan, saling memberi diri serta saling mendukung satu sama lain dalam komunitas kita bersama. Sehingga di dalam sebuah komunitas yang dibangun berlandaskan Kristus, kita akan mampu mengalami hidup yang bergantung sepenuhnya pada Allah. (KHS)
“Kerendahan hati adalah konsekuensi dari keputusan kita untuk mempunyai perilaku yang benar di hadapan Allah, Bapa yang sejati”

Leave a Reply