Bacaan: Yakobus 5 : 7-10

Baru saja lepas dari ketegangan aksi perihal kasus dugaan penistaan agama oleh salah satu tokoh politik terdengar berita tentang pembubaran paksa KKR oleh ormas di Bandung. Tak lama berselang, bencana gempa bumi melanda saudara kita di Pidie Jaya – Aceh yang memakan korban hampir 800 orang, lebih dari 3000 orang mengungsi, dan sampai dengan saat ini masih dilakukan pencarian korban yang tertimbun. Lebih menyedihkan lagi, ketika banyak orang Kristen cepat berkomentar bahwa bencana terjadi sebagai pembalasan Tuhan karena KKR dibubarkan. Oh tidak… apakah sekarang kita mau jadi hakim-hakim kecil? Lalu bagaimana dengan bencana angin puting beliung di Salatiga. Apa komentar kita?

Ketegangan juga dirasakan oleh jemaat perantauan di luar Yerusalem. Menjadi perantau di negeri asing membuat mereka merasa sendiri dan merasakan tekanan dari sekitar yang tidak suka dengan jemaat Kristen kala itu. Sebab itulah Yakobus menuliskan “Bersabarlah sampai kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar….Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu….jangan bersungut-sungut….turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi….. kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan” (Yakobus 5:7–10)

Setidaknya ada tiga hal yang hendak disampaikan Yakobus yaitu sabar, tekun, dan ingat kasih Tuhan. Sabar berarti tidak kehilangan hati. Hal ini penting, sebab jika kita kehilangan hati yang mengarah kepada Tuhan maka hidup kita menjadi kacau. Dengan sabar maka kita dapat bertekun dalam panggilan kita. Sabar dan bertekun bukan berarti kita menjadi pasif dan tidak bertindak apa apa. Kita setuju bahwa ketidakadilan yang terjadi harus ditegakkan dengan melaporkan setiap perkara yang melanggar undang-undang. Kita harus bersikap tegas terhadap intoleransi dan radikalisme dengan membangun ulang pola pikir kehidupan beragama kita dengan toleransi dan mempererat persatuan kita dan sesama umat beragama yang lain. Lakukanlah yang harus kita lakukan, seperti petani yang melakukan bagiannya menanam dan mengusahakan ladangnya.

Dan yang terakhir dan penting adalah jangan lupakan kasih Tuhan yang menyertai dan melingkupi kita. Imanuel. Allah menyertai kita. (DKG)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.