Bacaan: YESAYA 11:1-10

Tak ada topik yang “lebih menarik” selain topik perselisihan. Lihat saja, berita-berita tentang perceraian, pertengkaran, kebencian, selalu menuai komentar yang beragam. Media sosial di internet pun dipenuhi dengan berita-berita demikian. Beberapa teman saya bahkan melakukan cara-cara tertentu untuk memblokir konten-konten tersebut karena ia lelah jika harus mengikuti semuanya. Topik ini bukanlah sesuatu yang baru dan masih hangat-hangatnya karena sejak dunia jatuh dalam dosa, perselisihan menjadi bumbu utama dari sejarah perjalanan dunia. Namun Allah tidak tinggal diam dan Ia melakukan sesuatu yang dipersaksikan dalam bacaan kita hari ini.

Kitab Yesaya merupakan nubuat Mesianik, yaitu nubuatan akan kehadiran Sang Mesias di antara bangsa-bangsa. Dan pasal 11 ini sarat akan gambaran kerajaan Allah yang penuh damai dimana Kristus memerintah sebagai Raja. Mari perhatikan gambaran yang terlihat tak masuk akal: Binatang buas tinggal bersama binatang yang seharusnya menjadi mangsanya, semua makhluk yang hidup bersama tanpa saling menyakiti, dan kepastian akan ketiadaan kejahatan di gunung-Nya yang kudus (ayat 6-9). Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi? Tak lain dan tak bukan karena Kristus yang memerintah untuk selama-lamanya. Kita dapat berharap bahwa di satu masa nanti, dunia ini tidak lagi mengenal kejahatan maupun permusuhan. Lantas, bagaimana dengan dunia sekarang ini? Kenyataannya keadaan di atas tidak 100% terjadi karena dunia ini adalah dunia yang telah jatuh dalam dosa. Kehidupan kita sehari-hari dikelilingi oleh kecemburuan, fitnah, perasaan curiga, kebencian, dan permusuhan. Namun apakah sebagai utusan kerajaan Allah kita hanya berdiam diri?

Setiap minggu adven memiliki makna berbeda. Jika Adven pertama berbicara tentang pengharapan, maka adven kedua di minggu ini berbicara tentang kedamaian. Mari kita merenungkan bagian ini: Sudahkah kita hidup berdamai dengan sesama? Perasaan apa yang menguasai kita belakangan ini, perasaan penuh kasih atau kebencian? Mengapa kita memilih untuk hidup dalam kebencian dan apa keuntungannya? Kebencian tidak pernah memberikan kelegaan, namun sebaliknya terus menghantui hari-hari kita. Tak sedikit orang yang kacau hidupnya, pekerjaannya, kesehatannya, relasinya, karena memilih untuk hidup dalam kebencian. Memelihara kedamaian dan menanggalkan kebencian adalah kasih karunia Tuhan. Artinya, kita akan gagal mewujudkannya dengan usaha sendiri. Tugas kita hanyalah menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan mengikuti agenda-Nya. Ia tahu apa yang akan dilakukan-Nya. Bagaimana jika mulai hari ini kita memberikan secercah kedamaian dan pengharapan bagi dunia yang haus akan kasih ini? Selamat menjadi penebar damai, bukan penebar benci. (BWA)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.