Bacaan: YOHANES 8:1-11

Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak. Ya, peribahasa ini sering kita dengar, menggambarkan betapa mudahnya kita melihat kesalahan orang lain, sebaliknya betapa sulitnya kita melihat kesalahan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Tiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, baik yang akhirnya menyakiti orang lain ataupun yang tidak.

Bacaan kita dari Yohanes 8 : 1 – 11 mengingatkan kita bagaimana Tuhan Yesus bersikap kepada orang yang berbuat salah. Ketika banyak orang ingin melakukan penghakiman kepada orang yang bersalah ini, Tuhan Yesus ditantang untuk memberikan keputusan mengenai bagaimana menghukumnya. Tentu saja tantangan ini tidak murni untuk sekedar bertanya, ada maksud di baliknya untuk mencari-cari kesalahan Tuhan Yesus.

Jawaban Tuhan Yesus di luar dugaan orang banyak itu. DIa tidak memberikan persetujuan atas hukuman, tidak juga berkata langsung untuk membebaskan dari hukuman. Tuhan Yesus menjawab dengan bijak, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (ayat 7). Satu persatu orang banyak itu meninggalkan tempat, seakan menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa yang berhak melakukan penghukuman terhadapnya. Jika mau adil, maka semua dosa orang banyak itu akan ada sanksi dari hukum Taurat. Dan jika diterapkan, tidak aka nada yang lolos dari hukuman. Menjadi tidak adil jika mereka yang seharusnya juga dihukum menjadi orang yang menjatuhkan hukuman. Tentu konteks di sini bukanlah mengenai konteks hukum dan pengadilan, tetapi bagaimana Tuhan Yesus mengajarkan mengenai penghakiman, pertobatan, kasih, dan pengampunan.

Dalam kehidupan ini, kita juga sering dengan mudahnya menjatuhkan penghakiman kepada sesama kita. Tidak jarang penghakiman itu juga kemudian diikuti dengan penghukuman, baik secara fisik maupun mental. Misalkan kita kemudian mengucilkan orang tersebut dari pergaulan kita, mendiamkan (dijotak), dsb, itu juga merupakan bentuk penghukuman kita kepada sesama kita. Sudahkah kita sedemikian baik hingga tidak pernah berbuat salah, untuk menjatuhkan penghakiman kepada sesama kita? JIka kita mau sedikit merenung, tentu jawabannya kita sendiri juga sering berbuat salah. Lantas, mengapa kita tidak mau mengampuni? Bukankah kita juga telah terlebih dahulu diampuni dosanya oleh Tuhan.

Marilah kita belajar untuk mengampuni, membebaskan, seperti yang telah diteladankan Tuhan Yesus. Kasih dan pengampunan menjadi titik awal untuk terjadinya pemulihan, sebuah kesempatan baru untuk menjalani hidup yang lebih baik.

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4 : 32)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.