Bacaan: Kejadian 33 : 1-20

Kisah Yakub dan Esau dalam bacaan kita hari ini, tentu sudah tidak asing bagi kita semua. Setelah kurang lebih dua puluh tahun mereka tidak berjumpa tentulah Yakub takut untuk bertemu kembali dengan Esau, setelah apa yang dilakukan Yakub terhadap saudaranya itu. Yakub menipu Esau menukar hak kesulungannya dengan masakan kacang merah saat Esau baru pulang dari padang dengan kondisi lelah dan lapar. Tentu saja Esau juga salah karena menganggap enteng hak kesulungannya dan dengan mudah menukarnya dengan makanan. Padahal hak kesulungan merupakan penghargaan khusus kepada anak sulung dan meliputi bagian ganda dari warisan keluarga beserta suatu kehormatan bahwa suatu saat nanti akan menjadi pemimpin keluarga. Kejadian yang kedua adalah saat Yakub menipu ayahnya Ishak dengan berpura-pura menjadi Esau sehingga Yakublah yang menerima berkat dari ayahnya. Kejadian ini menimbulkan dendam dihati Esau dan dia berencana membunuh adiknya tersebut. Karena itu Yakub kemudian melarikan diri kerumah Laban, saudara ibunya. Didalam Kejadian 32 : 9-12 dikatakan Yakub berdoa didalam ketakutannya, memohon pertolongan Allah sebelum bertemu dengan Esau. Dan Tuhan Allah menolong Yakub sehingga ketika mereka bertemu kembali, Esau telah memaafkan Yakub. Kejadian 33 : 4 mengatakan “Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka”. Didalam perjumpaan tersebut telah terjadi rekonsiliasi, karena Yakub telah meminta maaf dan Esau telah memaafkan Yakub.

Sebagai manusia tentu kita juga pernah menyakiti dan disakiti oleh orang lain. Namun ternyata meminta maaf dan memaafkan adalah dua hal yang sama-sama tidak mudah untuk dilakukan. Jangankan mengakui kesalahan, kita seringkali justru mencari-cari alasan untuk menyalahkan orang lain demi untuk pembenaran diri. Karena kesombongan dan harga diri pula, kita lupa bahwa kitapun seringkali juga menyakiti orang lain.

Hidup saling memaafkan butuh kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan butuh kebesaran hati untuk dapat memaafkan orang yang bersalah. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita Doa Bapa Kami, didalam Matius 6 : 12 yang berbunyi “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Karena itu biarlah kita dengan penuh kesadaran menjadikan kebiasaan meminta maaf dan memaafkan sebagai keseharian dalam kehidupan iman kita, khususnya di tengah keluarga. (LKSI)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.