Bacaan: I Timotius 6:6-19

Keadilan dan damai sejahtera. Dua kata ini sangat sering kita dengar dan didengung-dengungkan sebagai tujuan yang mulia dari hidup umat manusia. Seringkali dua kata ini juga digunakan oleh negara sebagai sesuatu yang hendak dicapai bagi rakyatnya. Namun pada kenyataannya seakan-akan keadilan dan damai sejahtera tersebut hanya ada pada tataran wacana dan idealisme yang tidak tersentuhkan di negeri utopia yang jauh di sana. Apalagi di zaman sekarang ini, individualisme dan materialisme menjadi tujuan dan slogan baku yang mendarah daging di hampir sebagian besar manusia, khususnya bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Jurang kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin juga tidak dapat dipungkiri menjadi semakin lebar dan akhirnya membawa dunia pada persoalan ekonomi dan sosial. Kriminalitas yang meningkat, kejahatan yang semakin merajalela, dan ketakutan akan rasa aman yang merongrong hidup setiap kita. Masih adakah harapan akan keadilan dan damai sejahtera?

Bacaan kita mengingatkan bahwa apa yang kita miliki dalam hidup di dunia hanya sementara (I Timotius 6:7). Kesalahan bukan pada harta kekayaannya, tetapi bagaimana cara kita memandang harta tersebut. Berkat dan kekayaan datangnya dari Tuhan, dan hanyalah titipan. kelebihan kita harusnya mencukupkan kekurangan yang lain (ayat 18). Di sinilah letak persoalan dua kata di tema kita, keadilan dan damai sejahtera. Hanya dengan kita belajar rendah hati, menyadari bahwa apa yang kita punya adalah dari Tuhan semata dan adalah titipan untuk kita bagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Kita belajar untuk tidak egois mementingkan diri sendiri.

Individualisme dan materialisme yang dieluk-elukkan dunia sebagai simbol kejayaan bukanlah spiritualitas kekristenan. Alkitab mengajarkan untuk kita tidak mementingkan diri sendiri, tidak mengejar harta kekayaan sebagai yang utama, tetapi bagaimana kita berbagi berkat kepada sesama, mengejar keadilan, sehingga boleh tercipta damai sejahtera di muka bumi ini dan nama Tuhan dpermuliakan. Mewujudkan cita-cita besar keadilan dan damai sejahtera memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi jika tidak ada langkah pertama, tidak akan ada langkah-langkah berikutnya. Maukah kita mulai dari diri sendiri? Amin. (YEP)

Leave a Reply