Bacaan: Lukas 10 : 25-37

Sebagai anak-anak Allah kita harus murah hati karena Bapa di surga juga murah hati (Lukas 6 :36). Kebanyakan orang berpikir bahwa murah hati identik dengan suka bersedekah atau memberi materi pada yang kekurangan. Murah hati tidak hanya berbicara tentang materi saja, tetapi juga sikap-sikap yang mudah memberi, tidak pelit, suka menolong, dan mudah mengasihi orang.

Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Ketika seseorang yang turun dari Yerusalem menuju Yerikho dirampok dan sekarat di tengah jalan. Seorang imam dan orang Lewi hanya melewati orang sekarat itu dan tidak menolongnya. Padahal kedua orang tersebut adalah pelayan Tuhan yang seharusnya memiliki kemurahan hati. Kemudian lewatlah orang samaria di jalan itu, dan menolong orang Yahudi yang sekarat ini. Padahal bangsa Yahudi tidak mau bergaul dengan bangsa Samaria karena dianggap kafir dan sudah bercampur dengan bangsa lain. Tetapi orang Samaria ini malah menunjukkan kemurahan hati, ia menolong orang Yahudi ini tanpa memandang latar belakangnya. Inilah bentuk dari sebuah kemurahan hati yang seharusnya ada pada ana-anak Allah, yang tidak terhenti hanya karena adanya perbedaan suku, ras, tingkat pendidikan, golongan ekonomi, dan lain-lain.

Pada kenyataannya banyak anak-anak Allah sulit untuk menunjukkan kemurahan hati. Ini terjadi karena banyak orang yang belum sadar dan merasakan betapa besarnya kasih Allah dalam hidupnya. Ketika seseorang mengalami kasih Allah dalam hidupnya, kasih Allah inilah yang memampukannya untuk mengasihi orang lain. Ketika dalam sebuah komunitas, setiap orang didalamnya sudah mengalami kasih Allah dalam hidupnya, maka komunitas tersebut akan menjadi komunitas yang penuh kasih dan kemurahan hati. Orang – orang akan saling mengasihi, menolong dan mencukupi kebutuhan sesamanya. Dengan demikian kasih Tuhan akan terpancar dan dunia dapat melihat dan merasakan kasih Tuhan melalui komunitas ini. (RA)

Leave a Reply