Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi sukses. Secara umum predikat sukses selalu diindentikan dengan masuk kuliah yang favorit, punya pekerjaan mapan, gaji selangit, harta yang cukup, menikah, dan sederet ukuran sukses kebanyakan orang. Lantas demi sukses itulah, anak anak didorong (atau diintimidasi?) untuk belajar yang rajin – kurangi waktu bermain, nilai harus tinggi, kuliah dimana harus ikut kata orang tua, bekerja dengan orientasi gaji, dan harus menikah di usia segini – jika perlu dicarikan jodoh. Lantas pernahkah orangtua bertanya pada anaknya tentang semua itu sebagai panggilan mereka? Sebagai jalan hidup mereka? Dan yang terpenting apakah mereka bahagia?

Semua orangtua pasti punya maksud baik untuk mendidik anak-anaknya, tetapi seringkali maksud baik itu berubah wujud menjadi cambuk agar anak-anak berjalan di jalan orangtuanya, bukan jalan mereka sendiri. Sukses sejatinya bukan hanya soal materi semata atau predikat label sukses di mata orang, tetapi bagaimana setiap anak berhasil menemukan panggilan hidupnya. Orangtua seharusnya menyiapkan pribadi anak anak untuk dapat mengenal panggilan mereka, mencari jawab atas segala pertanyaan hidup mereka di dalam suara Tuhan, dan melatih kaki mereka agar berjalan teguh di jalan panggilan mereka.

Musa menegaskan perintah Tuhan bagi setiap orangtua bangsa Israel “supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya… Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang ulang kepada anak-anakmu… (Ulangan 6:2,5-7).”

Jika kita perhatikan alur dari perintah ini, orangtua harus memahami dan mengalami kasih kepada Tuhan, berpegang pada ketetapan-Nya, dan barulah mengajarkannya kepada anak-anak mereka. Mengenalkan Tuhan dan mengajarkan ketetapan-Nya kepada anak-anak ini begitu penting, sebab orangtua tidak akan selamanya akan berada pada sisi mereka. Anak-anak akan menjadi dewasa dan meneruskan kehidupan sendiri, dalam konteks bangsa Israel, anak-anak itu meneruskan kehidupan bangsa Israel. Oleh sebab itu ketetapan Tuhan tidak boleh hilang dari kehidupan bangsa Israel dan seterusnya dijaga. Demikian pula dengan kita, didiklah anak anak untuk mengenal Tuhan dan ketetapan-Nya sebagai panduan mereka untuk mencari panggilan Tuhan dalam hidupnya, berproses dalam iman mereka, dan kelak berjalan teguh di jalan yang telah dirancangkan Tuhan bagi kehidupan mereka. Sebab ketika mereka menemukan lentera jiwa mereka di dalam Tuhan, maka biarlah kita melepas mereka dengan hati yang berserah. (DKG)

Leave a Reply