RENUNGAN KHUSUS PEMBUKAAN BULAN ANAK 2016

Yuyun, Angeline dan korban lain kejahatan seksual yang tak lagi bisa disebutkan namanya satu persatu adalah para korban yang membuat kesadaran kita terbangun dalam mimpi yang panjang tentang perlindungan anak dan perempuan, khususnya di Indonesia. Kasus-kasus kejahatan seksual dalam hal ini pelecehan adalah satu dari sekian banyak bentuk kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan yang merupakan fenomena gunung es. Saat ini kita hanya melihat beberapa kasus besar yang ternyata baru bagian puncak gunung es, tetapi sebenanrnya masih banyak korban pelecehan seksual lainnya yang kasusnya masih tertimbun dibawah. Pelecehan seksual akan selalu diawali dari kesempatan dari pelaku yang melihat lemahnya pengawasan dan penjagaan pada anak-anak. Data menyebutkan 5% pelaku pelecehan seksual anak adalah orang-orang terdekat. Mereka orang yang dipercaya dan disegani oleh anak, mereka pula yang melecehkan, ironis bukan? Inilah salah satu alasan mengapa pelecehan seksual sangat mudah terjadi. Oleh karena itu diperlukan sebuah kedekatan batin yang erat dengan anak-anak,karena dengan ini kita sebagai orangtua bisa dengan mudah akan mengetahui perubahan anak dan dapat segera mencegah pelecehan tersebut berulang. Berikut daftar macam perubahan yang dialami oleh anak korban pelecehan seksual, diantaranya adalah:

  • Sering mimpi buruk tengah malam
  • Pendiam dan suka menyendiri
  • Takut terhadap bau, sosok, ataupun tempat tertentu
  • Sering didapati melamun dengan tatapan yang kosong
  • Dan kebiasaaan-kebiasaan ganjil lainnya yang tiba-tiba menjadi kebiasaan anak-anak.

Selain mengetahui dengan cermat dan jeli, diperlukan pengetahuan tentang dampak pelecehan seksual yang sebenarnya mempunyai dampak jangka panjang dalam masa tumbuh kembang anak, diantaranya:

  • Mengalami gangguan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yaitu cemas pasca-traumatis antara lain mimpi buruk berulang-ulang, gelisah atau mudah terkejut, dsb.
  • Merasa jijik pada tubuhnya sendiri
  • Tidak mampu melindungi diri sendiri, sehingga pelecehan seksual selanjutnya dapat terjadi
  • Tempramen –emosi yang tidak stabil.

Korban pelecehan seksual terutama pada anak, akan tersimpan di memori otak mereka dalam masa perkembangan sehingga memori ini dapat sangat berdampak pada tumbuh kembang mereka. Ketika orang tua tidak percaya pada cerita yang disampaikan anak terkait tentang apa yang ia alami (pelecehan seksual) dan tidak peka pada perubahan anak (ditambah dengan ketiadaan komunikasi intens- tatap muka bukan hanya dengan media dll- setiap hari) maka bukan tidak mungkin pelecehan seksual akan menjadi luka yang termemori hingga ia besar. Diperlukan bantuan psikolog, konselor dan para pendeta (pemuka agama) untuk membantu masa pemulihan luka batin akibat pelecehan seksual tersebut. Oleh karena itu, segera mencari bantuan dan perbanyak pengetahuan kita sebagai orang dewasa di sekitar anak tentang bahaya dan pencegahan pelecehan seksual.

Pada bulan anak tahun 2015 yang mengambil tema “Anakku, Ibadahku” sebagai gereja kita telah bersama menghayati betapa kehadiran anak di sekitar kita adalah tanggungjawab kita kepada Allah. Menjaga, mengasihi, melindungi, dan mendidik anak-anak dalam cinta Kasih Tuhan adalah ibadah kita kepada Allah, Sang Empunya Kehidupan. Maka dalam rangka memasuki bulan anak 2016 yang mengambil tema “Anakku Berharga, Anakku Berkarya” kita akan kembali dilengkapi dengan sebuah penghayatan bahwa Tuhan mempunyai Visi dan Misi terhadap setiap anak. Anak-anak dihadirkan untuk melakukan karya bagi kemuliaan nama Tuhan. Anak yang dilindungi, dikasihi dan dididik dalam cinta kasih Tuhan akan bertumbuh menjadi anak yang secara optimal berkarya dengan mental yang sehat. Sehingga petanyaan judul diatas dapat dengan tegas kita jawab “Tidak, tak perlu lagi ada korban berikutnya! hentikan kejahatan seksual pada anak!”. Anak tahu mereka adalah pribadi yang berharga dimata Allah dan kita orang dewasa, maka ia bisa menjawab panggilan Tuhan dalam diri mereka. Mari jaga, lindungi, didik serta ajak mereka untuk makin mengenal Tuhan. (KHS)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.