Bacaan: Yohanes 13:34-35

Perintah itu disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada para murid sebelum Ia ditangkap kemudian dibawa kepada Pontius Pilatus, hingga peristiwa agung di Kalvari. Perintah baru bagi para murid-Nya saat itu, dan kepada kita, umatNya. Dalam setiap kesempatan, perintah itu terus dinyatakan kepada kita yaitu supaya kita saling mengasihi. Mengapa kasih? Karena kasih adalah identitas Allah yang paling sering Ia nyatakan, sebagaimana yang dipersaksikan dalam Injil Yohanes mengidentikkan Allah dengan kasih. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:7-21)

Perintah mengasihi sebetulnya sudah difirmankan Tuhan kepada bangsa Israel (Imamat 19:18), dan Kristus menggenapi perintah itu dengan Hukum Kasih yang sempurna, mengasihi Tuhan dan mengasihi orang lain. Mengasihi Tuhan tak mungkin dilakukan jika tidak mengasihi orang lain. Mengasihi orang lain sebesar Kristus mengasihi orang lain adalah sebuah usaha yang terus ditumbuhkan dan perlu diperjuangkan. Sekarang kita harus mengasihi orang lain berdasarkan kasih Kristus yang penuh pengorbanan bagi kita. Kasih seperti itu tidak hanya akan membawa orang-orang yang belum percaya datang kepada Kristus, tetapi juga akan membuat orang percaya tetap kuat dan bersatu. Kristus adalah teladan hidup mengenai kasih Allah, demikian juga kita harus menjadi teladan yang hidup mengenai kasih Yesus. Justru dengan mengasihi, semua orang tahu bahwa kita adalah murid-Nya, yaitu jikalau kita saling mengasihi (Yohanes 13:35).

Kasih bukan sekedar perasaan emosional yang hangat; namun kasih adalah sikap yang nyata melalui tindakan. Bagaimana kita bisa mengasihi orang lain seperti Yesus mengasihi kita? Dengan menolong ketika kita sendiri susah; dengan memberi walaupun itu berarti rugi; dengan mencurahkan tenaga untuk kesejahteraan orang lain dan bukan kesejahteraan diri kita sendiri; dengan mengampuni luka di hati karena orang lain tanpa membalas. Mengasihi seperti ini sulit dilakukan. Namun bukan berarti tidak bisa, sebab kita diberi kuasa oleh Sang Sumber kasih.

Marilah kita melakukannya, mengasihi seperti Kristus mengasihi, mengajarkannya dari generasi ke generasi, dan yang terutama dasari dengan kasih kita kepada Allah. “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu…Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Ulangan 6:1-9, Matius 22:40) haruslah kita mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anak kita, supaya kita sendiri menjadi teladan bagi mereka sehingga terbangun komunitas yang saling mengasihi, dimana Kristus akan dipermuliakan disana! Kiranya Tuhan menolong kita semua. Amin. (SI)

Leave a Reply