Ketika kita menjadi pengikut Kristus, artinya kita menjadi domba-domba-Nya. Domba selalu mendengarkan dan mengikuti Sang Gembala, yaitu Kristus sendiri. Sang Gembala inilah yang menjadi sumber andalan bagi domba. Andalan dalam mencari jalan. Andalan dalam mencari makanan dan minuman. Andalan dalam menghadapi bahaya.

Satu hal pertama yang harus disadari si domba adalah fakta bahwa dia lemah dan perlu senantiasa bersandar kepada Gembalanya untuk hidup. Semangat inilah yang kita harus hayati dalam kehidupan kita, bahwa kita ini lemah dan membutuhkan kasih Kristus sebagai andalan dan penopang bagi kehidupan kita. Kita tidak boleh merasa mampu untuk menjalani kehidupan kita sendiri. Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidupnya di masa depan. Hidup kita seperti uap, yang sebentar saja lenyap (Yakobus 4:14).

Setiap orang dalam mengalami masalah, persoalan, pergumulan atau kesulitan hidup biasanya akan mencari andalan. Ada yang mengandalkan hartanya, posisi atau jabatannya, mengandalkan keluarga atau orang-orang terdekatnya. Terkadang kita merasa masalah tersebut dapat kita atasi dengan andalan-andalan pilihan kita sendiri dan berhasil, kita mulai yakin bahwa segala sesuatu dapat kita atasi tanpa Tuhan. Apakah benar demikian?

Kepada siapa kita bersandar menentukan bagaimana sikap hidup kita, kepada Sang Gembala atau jalan kita sendiri dengan bersandar pada yang lain? Andalan dunia tidaklah kekal adanya. Harta dapat lenyap, posisi atau jabatan dapat hilang sewaktu-waktu, bahkan orang-orang terdekat dapat pergi meninggalkan kita kapan saja. Hanya bersandar kepada kasih Kristus, Sang Gembala sebagai penopang hidup, kita dapat berjalan dengan tenang, sampai kita tiba pada kemuliaan di Sorga nanti.

Memang berjalan bersama dengan Sang Gembala tidak selalu mudah, tidak jarang kita juga akan menghadapi kesulitan dan tantangan. Tetapi yang membedakan adalah bahwa kita tidak sendiri. Penyertaan-Nya yang sempurna membuat kita tenang dan tidak takut bahaya, karena kita yakin bahwa Tuhan menjaga kita. Seperti ada ungkapan “Allah tidak menjanjikan bahwa langit selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar, tetapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap pencobaan, dan jawaban di setiap doa.” Amin. (YEP)

Leave a Reply