Maka kata yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.(Yohanes 12:7)
Kata tobat atau pertobatan dalam bahasa Ibrani: syuv berarti berputar, berbalik kembali. Sedangkan dalam bahasa Yunani: metanoia dan epistrefo artinya perubahan hati, yang nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah untuk pengabdikan diri penuh kepada Allah. Inilah yang di maksud dengan perilaku seseorang sebagai dampak dari karya Roh Kudus yang melahiran orang itu. Pertobatan adalah syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan. Inilah yang Yesus serukan dalam pelayanan-Nya di muka umum, dan pada saat sebelum Ia naik ke Sorga. Dengan demikian, jelaslah bahwa jika seseorang berbalik kepada Allah, tindakan dan perbuatannya mengungkapkan terjadinya perubahan hati yang begitu penting dan menentukan bagi seseorang dalam merespon karya Ilahi yang lebih dulu bekerja dalam diri manusia menuju pertobatan itu.

Dalam bacaan pertama, kita diingatkan bahwa karena Allah yang berprakarsa dalam perjalanan umat-Nya saat mereka mengalami kebuntuan di padang gurun, Allah membuka jalan saat tidak ada jalan, Allah membuka laut dan memberi jalan baru bagi umat-Nya, tetapi di laut yang sama, Allah membinasakan tentara Firaun yang mengejar dan hendak membinasakan umat pilihan-Nya. Hal yang sama dapat kita lihat melalui catatan Deutro Yesaya tentang keadaan umat Tuhan yang di hibur dalam pembuangan di Babel, dan bahwa Allah yang berprakarsa maka mereka dapat kembali ke negerinya setelah menjalani masa 70 tahun dibawah kekuasaan bangsa khafir. Hal ini mengingatkan kita tentang penyertaan Allah yang tidak pernah berhenti dan kesetiaan-Nya tidak pernah berubah. Apapun masalah hidup kita atau yang menyangkut dengan masa depan kita, gereja kita, kekristenan kita, Dia tetaplah Allah yang sama, yang berkarya secara kontekstual dari zaman ke zaman.
Dalam bacaan kedua, kita juga diingatkan bahwa jalan baru dalam pertobatan adalah ketika Allah memilih Paulus dan mengubahnya. Allah memilih Paulus sebagai jalan baru kepada pertobatan, walaupun jalan kepada pertobatan seakan tertutup, karena menurut kacamata lahiriah, Paulus adalah orang Ibrani sejati, ia sangat mengutamakan moralitas dan keagamaan. Akibatnya ia malah menjadi musuh Kristus dan musuh Injil (ayat 4-6). Namun dalam rancangan Tuhan dan kehendak Tuhan sendiri, Paulus di jadikan Tuhan sebagai jalan Pertobatan. Di sini jelas bahwa tidak seorangpun benar karena usahanya sendiri. Pengenalan akan Kristus Yesus membuat semua hal lahiriah yang kita andalkan seumpama sampah (ayat 8). Dengan kata lain, marilah kita jalani hidup yang sepenuhnya bersumber dan bergantung pada hidup dan karya penyelamatan yang Allah kerjakan bagi kita dalam diri Yesus.
Dalam bacaan ketiga (bacaan Injil), di minggu ke–5 masa pra-paskah ini, kita juga diingatkan bahwa kita sudah mendapat Anugerah pengampunan dan keselamatan dari Yesus, maka seperti Maria yang memberi minyak yang mahal untuk membasuh kaki Yesus, yang oleh Yohanes, perbuatan itu di sebut sebagai pengurapan, dan diartikan oleh Yesus sebagai persiapan bagi penguburan-Nya, maka kita pun menyerahkan hidup kita secara total kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup, untuk menjadi jalan pertobatan bagi semua umat manusia dalam menyambut kedatangan-Nya kembali. (JM)

Leave a Reply