Bacaan: YEREMIA 1:4-10

Suatu hari seorang pemuda ditanya oleh neneknya “cucuku, maukah kamu menjadi pendeta di kemudian hari nanti?” Cucu ini menjawab dengan ragu namun jujur pada neneknya itu, katanya “nek, aku takut menjadi pendeta…” Pemuda ini tidak menjawab bahwa apakah ia mau atau tidak, tapi ia hanya menjawab bahwa bagi dia menjadi pendeta itu menakutkan. Sang nenek tersenyum lega mendengar jawaban cucunya yang sudah beranjak dewasa itu. Sembari tersenyum suara hangat sang nenek menimpali cucunya dengan sebuh pernyataan yang akan terus pemuda itu kenang hingga hari ini, kata sang nenek “bagus, justru takut menjadi pendeta itu adalah bekal menjadi pendeta..” Mendengar jawaban dan melihat senyum hangat di wajah neneknya itu, sang pemuda tak bertanya apa-apa lagi karena ia merasa kata-kata sang nenek memberikanya sebuah titik terang di jalan yang harus ia pilih saat itu juga apakah ia ingin melanjutkan perjalanan menjadi pendeta atau memilih mundur. Kata-kata sang nenek tak akan pernah ia lupa, hingga kini ia berada dan melayani Tuhan di dalam sebuah jemaat.

Bagi sebagian orang, rasa takut adalah perasaan negatif yang harus segera dihilangkan dan dimusnahkan. Tetapi apakah pernah kita justru melihat dan merasakan bahwa rasa takut itulah justu yang menjaga batin kita tetap dalam keadaaan sadar siapa diri kita sendiri dan rasa takut menjaga kita dari sikap sombong bahkan cenderung terlalu percaya diriSeperti itulah makna rasa takut yang dihayati oleh Yeremia. Diperkirakan usia Yeremia ketika mendengar panggilan Tuhan untuk ia menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Mendengar bahwa Yeremia takut karena masih muda dantak dapat berkata apa-apa, Allah memberinya penyertaan untuk melepaskan Yeremia dan IA sendiri yang menaruh setiap kata-kataNya di mulut Yeremia. Benarlah apa yang dikatakan Allah, karena jika kita melihat kenyataan setelah panggilan itu terjadi kehidupan Yeremia betul-betul memprihatinkan. Ia harus terus merasakan bahwa bahaya atas resiko menjadi nabi bagi Yehuda terus mengancam nyawanya. Ia dibenci dan dianggap pengkhianat oleh karena ia memberitakan nubuat kehancuran Yehuda. Ia harus berjuang dengan nyawanya untuk tetap memberitakan bahwa dalam kehancuran ada janji pemulihan Allah. Lihat, rasa takut Yeremia diawal panggilan, menjaga batinnya untuk tetap mengingat dan mengalami janji panggilan Allah sewaktu ia muda dulu. Takut, membuat ia mengalami siapa Allah yang terus saja melindunginya dari ancaman bahaya yang mengerikan.

Adakah diantara kita saat ini sedang mengalami perasaan takut oleh karena tugas mulia yang diberikan oleh Allah? Untuk menjadi nabi di rumah, nabi di tempat pekerjaan kita, nabi di lingkungan sekitar kita. Tentu dalam konteks menyuarakan suara kenabian Allah yang sesuai dengan kebutuhan sekitar kita pada janji dan kasih Allah. Kita sangat mungkin mengalami resiko yang tidak mudah karena menyuarakan suara Allah di tempat kita berada karena dunia mempunyai kehidupan yang jauh bertolak-belakang. Maka jika kita takut pada tugas mulia ini, itulah tanda kita siap untuk bergantung pada Allah dalam setiap resiko tugas yang Allah berikan pada bahu kita masing-masing. Takut, akan membuat kita mengalami pemulihan ALLAH yang siap mengutus kita membawa berita Allah pada sesama kita. Tuhan beserta kita saudara, kita tidak sendiri! (KHS)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.