Pada bulan November 2015, kita dikejutkan oleh kecelakaan Metromini (sejenis bis kota) yang ditabrak oleh Kereta Api Listrik di Muara Angke, Jakarta. Peristiwa itu disesalkan oleh banyak orang karena banyak korban meninggal dunia. Padahal di perlintasan kereta api tersebut sudah diberikan berbagai tanda untuk menunjukkan bahwa ada kereta api yang akan melintas. Rambu, suara sirine, dan palang yang turun menutup jalan. Tapi apa yang terjadi? Tanda itu dihiraukan oleh supir metromini dan akhirnya yang terjadi adalah kecelakaan maut. Sebuah tanda ternyata membutuhkan respons yang tepat.

Minggu ini kita memperingati hari pembaptisan Yesus Kristus. Mungkin ada yang bertanya kenapa harus diperingati? Peringatan Pembaptisan Yesus menjadi tanda yang mengingatkan umat tentang karya Allah bagi kita. Allah tidak lagi menjadi Allah yang jauh tinggi di sorga dan tidak terhampiri manusia, tetapi Allah yang bersimpati dan turun sebagai manusia. Untuk apa? Untuk satu hal saja yakni menyataan Kasih Ilahi secara tuntas dan sempurna. Pembaptisan Yesus berbeda dengan pembaptisan orang orang yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Orang orang itu dibaptiskan sebagai tanda pertobatan untuk menjadi umat Allah yang sejati yaitu menghasilkan buah pertobatan (Yoh 3:8). Pembaptisan Yesus adalah tanda penyataan Allah ada di dalam diri Yesus, menjadi sama dengan manusia (kecuali berdosa), dan menerima tugas menjadi jalan pemulihan manusia dengan Allah. Tugas itu telah tuntas ketika Yesus mati disalibkan membawa segala dosa kita dan kehidupan kita diperbarui di dalam kebangkitan Yesus.

Dengan memperingati baptisan Yesus, kita juga diingatkan akan pembaptisan kita. Baptisan kita menjadi tanda bahwa kita telah menyerahkan diri kita untuk dipersatukan dengan Kristus, mengalami penebusan dan hidup dalam pemulihan Allah. Bukan berarti jika seseorang belum sempat dibaptis maka tidak selamat. Baptisan tidak menyelamatkan, yang jauh lebih penting adalah penyataan iman kita untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Meski begitu, jangan juga meremehkan arti sakramen baptisan kita dan anak anak. Ketika kita sungguh membuka hati untuk menerima Kristus sebagai Juruselamat kita, yang juga dinyatakan dalam sakramen baptisan, maka pemulihan Allah berkarya di dalam hidup kita. Itu yang seharusnya menjadi respons kita.

Baptisan membutuhkan respons yang tepat dan serius, seperti tanda peringatan kereta api tadi.Respons untuk membuka hati dan hidup di dalam pertobatan dan siap dipulihkan di dalam Kasih Allah.Baptisan itu bukan sesuatu yang bisa diulang ulang. Berdosa lalu dibaptis, berdosa lalu dibaptis lagi.Baptisan itu sekali untuk seumur hidup dilakukan di dalam Nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kita dipulihkan di dalam Kasih Allah yang nyata di dalam Kristus dan kita hidup dalam bimbingan Roh Kudus. Lalu apakah lantas kita otomatis akan terus menjadi manusia suci tak bercacat? Tidak juga. Oleh karena dibutuhkan respons ketaatan kita untuk hidup di dalam pertobatan. Hidup dalam pertobatan maka kita mau membuka hati untuk dipulihkan. Pemulihan akan sulit terjadi jika kita tetap mengeraskan hati dan kepala untuk mau dibentuk oleh Allah. (DKG)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.