“Kata Yesus kepadanya: ‘Simon Anak Yohanes, Apakah engkau mengasihiku?…… gembalakanlah domba domba-Ku” Yohanes 21:16

Hatinya berkecamuk, pikirannya gelisah mengenang peristiwa malam itu. Malam terkutuk. Malam dimana ia sendiri telah menyangkali kekasih hatinya, Gurunya sendiri. Padahal dengan gagah ia sudah mengatakan akan ikut sampai mati. Ternyata, ia telah bertindak sebagai pengecut. Dan pagi itu, Petrus duduk berada bersama Yesus, guru yang telah ia sangkal malam itu. Yesus memanggil namanya dan bertanya sampai tiga kali “Apakah engkau mengasihi Aku?” dan Petrus menjawab tiga kali pula, hingga menangis “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Ada yang menarik dari teks ini, kenapa harus tiga kali? Secara pribadi, saya melihat ini sebagai bentuk pemulihan luka batin oleh Yesus kepada Petrus yang telah menyangkalnya tiga kali. Tiga kali sangkalan diganti dengan tiga kali pernyataan cinta. Pernyataan cinta direspon dengan sebuah panggilan bagi Petrus “Gembalakanlah domba-dombaku”.

Yesus juga bertanya kepada kita “apakah engkau mengasihi Aku?” tentu kita menjawab bahwa kita mengasihi Dia sepenuh hati. Kasih itu direspon oleh Yesus dengan sebuah undangan untuk menjadi gembala bagi domba-domba-Nya, sebagai bentuk nyata kasih kita kepada-Nya. Bukankah hal ini selaras dengan Hukum Kasih yang mengatakan mengasihi Tuhan berarti mengasihi sesama. Menjadi gembala ternyata bukan hanya tugas pendeta atau penatua. Itu tugas kita semua. Domba yang menjadi gembala bagi sesama domba yang lain. Termasuk kita, para orangtua yang dipanggil menjadi gembala bagi anak-anak kita. Sebagai bentuk kasih kita kepada Tuhan. Masalahnya adalah sudahkah kita menjadi gembala yang baik bagi anak anak kita?  Sudahkah kita menjadi gembala yang menyadari bahwa anak anak kita adalah anugerah Tuhan; menjadi gembala yang tidak mengekang dan kasar? Ada sebuah kutipan kata berbunyi demikian “Jika kita tidak mengajarkan anak-anak kita untuk mengikut Kristus, dunia akan mengajarkan mereka untuk tidak mengikut-Nya.” (anonim). Ya, itulah realitanya, anak anak akan lari keluar rumah, sebab di sana mereka merasa diterima dan dihargai daripada di rumahnya sendiri. Mereka lebih percaya orang luar daripada orangtuanya sendiri. Sebab di luar sana mereka didengarkan dan tidak dihakimi, tidak seperti di rumah. Di luar sana, anak anak merasa diberi kebebasan daripada diatur sana sini di rumah.

Jadilah gembala yang bersahabat bagi anak anak kita, gembala yang penuh kasih, gembala yang bersabar terhadap anak anak kita, mendidik dan membimbing anak anak kita di dalam Tuhan. (DKG)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.