Minggu Baptisan Yesus

“Serikatmu tetap teguh di atas Alasan,

Yaitu satu Tuhanmu, dan satulah iman,

Dan satu juga baptisan dan Bapa satulah,

Yang olehmu sekalian dipuji, disembah.”

 

Itu adalah sepenggal lagu dari KJ 249. Serikat Persaudaraan.  Dalam lagu itu ada kata-kata yang menarik untuk disimak, yaitu kata “Satu.” Satu Tuhan, satu Iman, dan satu baptisan.  Sakramen baptisan adalah bagian yang tidak dipisahkan dari gereja, karena itu diperintahkan oleh Kristus sendiri. Ketika seseorang dibaptiskan di dalam formula Allah Tritunitas; dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, maka dia akan terhisap dalam satu kesatuan tubuh Kristus yang disebut gereja.   Sakramen itu dilakukan satu kali seumur hidup.  Oleh sebab itu GKI tidak pernah melakukan baptisan ulang, selama orang itu dibaptis dengan nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, apapun caranya: percik atau selam.  Dalam tradisi GKI dilakukan percik karena mengikuti tradisi ibadah mula-mula.

Sakramen baptisan menjadi sebuah tanda yang tidak bisa disepelekan, sebab itu menjadi tanda bahwa orang itu mau menyambut anugerah keselamatan dengan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat satu-satunya bagi pribadinya.  Fokusnya adalah anugerah, bukan pada tanda sakramennya. Jadi jika seseorang sudah menerima Kristus dengan sungguh-sungguh didalam hatinya, tetapi tidak sempat dibaptis karena keadaan darurat dan di luar kemampuan manusia, maka percayalah bahwa anugerah Allah menyelamatkannya. Dengan kata lain, bukan baptisan yang menyelamatkan tetapi anugerah Allah.     

Minggu ini kita merayakan Baptisan Yesus.  Pembaptisan Yesus tidak menunjukkan bahwa Yesus ternyata berdosa, tidak sama sekali. Yesus Kristus adalah Tuhan yang turun menjadi manusia, suci dan tak bercela.  Lalu apa maksud Yesus dibaptis? Ada baiknya kita mengerti dahulu apa maksud ritual Baptis yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis (Mark 1:4).  Ritual Baptis adalah salah satu syarat (selain sunat) dari orang Yahudi bagi orang Non-Yahudi yang mau bergabung. Baptis ini melambangkan pembasuhan dan pembersihan seseorang dari masa lalunya yang kotor.  Menarik, sebab Yohanes menyerukannya justru kepada orang Yahudi sendiri. Artinya dalah Yohanes menggugat mentalitas superior –triumphalis ( aku yang benar, kalian yang salah) Yahudi, bahwa mereka juga harus bertobat dengan mau merendahkan hati dan membersihkan hati, pikiran, serta perubahan hidup  dalam cinta kasih Allah.

Dengan pembaptisan-Nya, Kristus menunjukkan kerendah hatiannya untuk mau masuk dipersatukan dalam komunitas manusia berdosa, sekaligus juga menjadi teladan, mengajak manusia berdosa untuk mau hidup dalam pertobatan dan hidup seturut kehendak Allah melalui penebusan dosa yang dilakukan oleh Kristus. Peristiwa baptisan Yesus juga menjadi sebuah legitimasi tentang siapa diriNya dari pernyataan dari langit  (simbol penyataan Allah) “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk 1:11).                  

Dengan demikian, umat yang mempersekutukan hidupnya bersama Kristus yang dimulai dari pengakuan iman dari hatinya dan ditandai dengan sakramen baptitsan; menjadi satu bersama umat yang lain dalam satu tubuh Kristus, sebagai anak anak Allah. Seharusnya, citra Kristus yang ada dan nampak dalam kehidupan komunitas kita, berdampak bagi dunia ini.  ( DKG)

Leave a Reply